Bilangan Desimal, Biner, dan Hexadesimal

Sebuah mesin digital biasanya mengenal dua keadaan, 1 dan 0 (walaupun ada juga yang mengenal tiga keadaan atau three-state — 1,0,float). Untuk perhitungan biasanya digunakan sistem bilangan biner. Bilangan biner juga dikenal sebagai bilangan basis 2. Contoh jika desimal(10) = biner( 1010 ) atau jika dihitung pada bilangan desimal maka 10 = 1 x 23 + 0 x 22 + 1 x 21 + 0 x 20. Sedangkan bilangan Hexadesimal adalah bilangan basis 16 dengan urutan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F. Cara pengonversian bilangan hex ke desimal sama seperti bilangan biner ke desimal hanya saja angka 2 dinganti dengan angka 16. Berikut tabel konversinya.

Desimal Biner Hexadesimal
0 0 0
1 1 1
2 10 2
3 11 3
4 100 4
5 101 5
6 110 6
7 111 7
8 1000 8
9 1001 9
10 1010 A
11 1011 B
12 1100 C
13 1101 D
14 1110 E
15 1111 F

Berikut contoh perbandingannya.

25 (desimal) = 2×101 + 5×100 (desimal)

25 (desimal) = 1×24+ 1X23 + 0x22 + 0x21 + 1×20 (desimal) = 11001 (biner)

25 (desimal) = 1×161 + 9×160 (desimal) = 11001 (biner) = 19(hex)

lebar bilangan pengali pada perhitungan di atas sesuai dengan jenis bilangannya. Jika biner desimal maka lebarnya 0 s.d 9 (basis 10), biner 0 s.d. 1 (basis 2), dan hex 0 s.d. F (basis 16). Jika dilihat pada contoh diatas, jenis bilangan hex dan biner mempunyai pola yang sama dengan bilangan desimal yakni bilangan desimal sebelah kanan adalah satuan mempunyai kelipatan terkecil dan semakin sebelah kiri nilai kelipatan semakin besar, begitu pula pada bilangan hex dan biner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s