now “9 Summers 10 Autumns”

9 Summers 10 Autumns

sebuah novel

Iwan Setyawan

Kisah anak sopir angkot dari Kota Batu yang menjadi direktur di New York City

Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya.

___________________________________________________________

Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator. Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. Dia membukakan pintu-pintu baru untuk meraih kemajuan. Pendidikan adalah kunci di balik keberhasilan Iwan.

Orangtuanya supir angkot, anaknya direktur di salah satu perusahaan paling terkemukan dunia, berkantor di New York.

Kisah Iwan menjadi bukti nyata tentang efek pendidikan. Karena itu, berikanlah akses pendidikan berkualitas pada setiap anak Indonesia. Tidak peduli anak miskin atau kaya, anak kota atau desa. Keterdidikan mereka akan membawa Indonesia menuju pada cita-citanya.

Iwan dari Kota Batu adalah bukti dan dia adalah inspirasi, bacalah novel ini dan kita akan merasakan optimisme itu tumbuh merekah.

Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar)

___________________________________________________________

Saya tak mengenalnya sebagai teman kecil atau remaja. Tapi momen-momen yang terlalui bersama Iwan saat di New York selama tak lebih dari 6 bulan kini terasa lebih mengenalnya dengan membaca cerita-cerita pendek di sini. Di novel ini Iwan bertutur salah satu penggalan perjalanan hidupnya yang terjal, berliku. Cinta ibu, saudara perempuan & sahabat telah menemani kesetiaannya untuk sabar & kerja keras dalam perjalanan waktu yang tak pendek. Ada begitu banyak kekuatan tersimpan dalam cerita ini. Salah satu kekuatan  itu adalah caranya yang selalu berpijak pada ingatan masa lalu dalam setiap langkah menapaki hari ini, terus menuju masa depan, seakan mau membuktikan apa yang dikatakan oleh William Faulkner bahwa masa lalu itu tak kan terlupakan, dan kenyataannya dia bukan masa lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang kita hidupi selalu setiap saat. Kisah-kisah di novel ini membentangkan siklus hidup alam sagir yang bersahaja, mengubah masa depannya sambil bertafakur seperti syair Frank Sinatra ‘life is like the season, after winter comes the spring.’

Usman Hamid (Aktivis hak asasi manusia, expert advisor untuk International Centre for Transitional Justice, KontraS, bapak dari Wisanggeni)

___________________________________________________________

Buku ini berhasil membuat saya tidak bisa berhenti membaca sampai titik terakhir. Disampaikan dengan gaya bahasa yang indah bagai puisi, namun mudah dipahami tanpa kesan bertele-tele ataupun membosankan. Satu hal yang pasti Iwan bukan hanya menyampaikan kesulitan dan kenyamanan hidupnya, tapi juga menunjukan kepada kita semua usaha dan kerja keras yang telah dilakukan dalam menempuh jalan dari Batu, kota Apel sampai ke New York, the Big Apple. Saat kita sadar nama keluarga kita adalah nama yang tidak memiliki “power” apa pun, maka saat itulah juga kita seharusnya sadar akan segala tantangan besar di hadapan kita. Saya akan mewajibkan anak-anak saya membaca buku yang untuk saya, mengharukan sekaligus inspiratif ini. Agar mereka sadar bahwa keluarga bukan sekedar sekumpulan orang yang kebetulan memiliki pertalian darah dan masa lalu bukan cuma waktu yang sudah lewat.

Virginia Rusli (Ibu tiga anak, Pemimpin Redaksi Majalah CLARA)
___________________________________________________________

Saya bukan orang yang mengerti sastra, tapi hanya seseorang penikmat novel. Novel ini menyenangkan untuk dibaca. Gaya penceritaannya menarik bagi saya. Mas Iwan, sebagai penulis, menceritakan kisahnya seperti ada dua jalur yang kemudian bertemu dan berakhir bersama di akhir cerita. Isi dari novel ini sangat inspiratif. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari perjalanan sang penulis ini mulai dari rangkaian cerita masa kanak-kanak, remaja, sebagai mahasiswa, dan menjalani kehidupan karier. Inspiratif.

Endang Rusiana

 ___________________________________________________________

Tentang Penulis

Iwan Setyawan lahir di Batu 2 Desember 1974. Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika ini bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karier di New York City selama 10 tahun. Pecinta yoga, sastra, dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorangsopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s