A Viewpoint

“Your Journey To Be The UltimateU” by Rene’ Suhardono.

  • Why do we choose to live in fear? We are part of God’s plan called life. Why worry? Perlu keberanian untuk melihat rasa takut, cemas, dan khawatir sekadar sebagai buah pikiran resah. Sebagaimana dikatakan oleh mentor saya Satriadi Indarmawan: make mistakes and learn from them. Ternyata 90% dari kekhawatiran tidak akan terjadi dan 10% di luar kendali kita, kenapa harus takut? Taklukan rasa takut dengan melakukan segala hal yang Anda takutkan selama ini.
  • Are we just living a life or are we masters of the art of living? Sebutan kalimat judul di atas saya petik dari filsuf China, Lao Tse yang berbunyi: “Orang-orang yang piawai dalam seni kehidupan TIDAK membedakan antara pekerjaan dengan permainan, antara kesibukan dengan keasyikan, antara pendidikan dengan rekreasi, antara pikiran dengan hati, dan antara kasih sayang dengan agama.” Petikan ini saya jadikan mantra hingga saat ini.
  • Everything you need to see can be seen by your heart. Nothing worth seeing is just seen by your eyes. 
  • Everything begins with the willingness to help & to receive help. Saat pertolongan diberikan, manfaat dan keutamaan terbesar justru diterima oleh pemberi pertolongan. Seolah dalam sebuah orkestra, pertanyaan dan pertolongan adalah musik indah yang mengisi kehidupan. Syaratnya cuma satu: ketulusan. Bertanya, menolong, dan ditolong adalah tarian kehidupan. Kehidupan pribadi akan jauh lebih bermakna  & seru saat bersentuhan dengan kehidupan orang lain.
  • People may be uneducated but they are not stupid. Orang bodoh selaluberpikir dirinya pandai dan sebaliknya, orang pandai selalu berpikir dirinya tidak akan pernah tahu segalanya. Bagi suku pedalaman, pilihan untuk hidup menyatu dengan alam memang jauh dari kemudahan yang ditawarkan kehidupan modern, namun bisa jadi mereka paling paham bisikan lembut dari pohon, binatang, dan alam. Apakah masih berpikir mereka bodoh?
  • Never confuse knowledge with common sense. Sir Ken Robinson, seorang pendidik revolusioner mengemukakan fakta bahwa 98% anak lahir dengan kemampuan “divergent thingking” – kebiasaan untuk menghasilkan banyak (ratusan) alternatif solusi untuk setiap masalah. Coba bandingkan dengan sebagian besar orang tua yang meyakini hanya ada satu solusi untuk setiap masalah. Pertanyaannya: Siapa yang harus belajar pada siapa. Uang, harta, dan jabatan bisa hilang, namun apa pun yang ada di antara kedua telinga sepenuhnya milik sendiri. Kalaupun segalanya harus hilang, segalanya bisa kembali didapatkan dengan ilmu, nalar & kepedulian. What you know is power – the more you know, the more powerful you become.
  • Knowledge comes, but wisdom lingers. Belajar kapan pun, belajar dari siapa pun, belajar dari apa pun mutlak diperlukan dalam proses bertransisi dari pengetahuan menuju pemahaman, dan akhirnya, kepedulian. Apakah Anda sudah memulai proses ini?
  • Saya butuh waktu panjang untuk mengerti, memahami dan menjadi asertif. Awalnya tidak mudah mengungkapkan perbedaan pendapat dengan orang lain walaupun sekadar untuk meluruskan pengucapan nama sendiri. Tidak juga mudah saat harus menyuarakan ketidaksepakatan dengan orang-orang dekat termasuk teman, sahabat atau keluarga. Lebih sulit lagi saat pemikiran didominasi worstcase-scenario apabila harus berkonflik dengan orang lain karena beda pandangan atas suatu perkara. Tidak sedikit yang memilih untuk diam seribu bahasa (walaupun tidak sepakat) karena enggan, khawatir dan takut. Bagaimana dengan Anda? Liberty = the right to tell people what they don’t want to hear.
  • Assertiveness is not what you do, it’s who you are. Asertif bukan sekadar kemampuan berkomunikasi efektif dalam menyampaikan pemikiran & pendapat. Asertif adalah keselarasan antara segala hal yang diyakini, dipikirkan, diucapkan & dilakukan SAMBIL tetap menghormati orang lain. Apa yang membedakan asertif dengan agresif adalah impact-nya bagi orang lain.
  • Miliki kepedulian + pegang kejujuran + punyai keberanian = jadilah asertif. Those who try to be everything to everybody will always end up being nothing to anyone.
  • Saya pernah diminta mengajar kelas Magister/S-2 oleh beberapa lembaga pendidikan. Berhubung saya sangat menikmati berdiri di depan kelas dan duduk di dalamnya pada kesempatan lain, tawaran ini sungguh menyenangkan. Saya menyanggupi tanpa perlu dibayar asal boleh ikutan jadi murid gelap pada kelas-kelas lain yang saya minati. Apa boleh buat rencana ini cuma sekadar rencana saat teman-teman di universitas menyadari bahwa saya tidak punya gelar S-2. Rupanya salah satu persyaratan utama untuk mengajar kelas S-2 minimal juga harus berjenjang S-2. Ada teman yang mengatakan bahwa S-2 adalah pencapaian yang membanggakan sehingga proses perolehannya wajib dijaga oleh institusi pemberi gelar. Saya paham sudut pandang itu dan tentunya tidak menyangkal gelar S-2 sebagai sebuah pencapaian luar biasa. Pencapaian yang perlu mendapat ucapan sekaligus pertanyaan “What next, and what would be the after-next? What’s your IMPACT?”
  • Sekarang bagaimana dengan pekerjaan Anda? Apakah sudah peduli dengan alasan keberadaan Anda di keluarga, dalam organisasi, di Indonesia dan di dunia? Your job matters to you & your family. But does your job give impact to others, environment & the universe?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s